Demoel's Blog



“Penggunaan Pengaruh Telepon Genggam Terhadap Interaksi Sosial Remaja”

Dedi Mulyana

I34062926

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sebuah teknologi pada hakikatnya diciptakan untuk membuat hidup manusia menjadi semakin mudah dan nyaman. Kemajuan teknologi yang semakin pesat saat ini membuat hamper tidak ada bidang kehidupan manusia yang bebas dari penggunaannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Seiring arus globalisasi dengan tuntutan kebutuhan pertukaran informasi yang cepat, peranan teknologi komunikasi menjadi sangat penting.

Hassan (1999) mengemukakan teknologi komunikasi cenderung memungkinkan terjadinya transformasi berskala luas dalam kehidupan manusia. Transformasi terseut telah memunculkjan perubahan dala berbagai pola hubungan antar manusia (patterns of human communication), yang pada hakikatnya adalah interaksi antar pribadi (interpersonal relations). Pertemuan tatap muka (face to face) secara berhadapan dapat dilaksanakan dalam jarak yang sangat jauh melalui tahap citra (image to image).

Isi pesan media komunikasi seringkali tidak mempengaruhi masyarakat yang kini melainkan bentuk dan jenis media itu sendiri. Banyak bentuk-bentuk teknologi baru dalam komunikasi yang kita kenal, seperti telepon selular (ponsel), surat elektronik, satelit, mesin faksimili, dan lain-lain. Teknologi komunikasi dalam wujud ponsel merupakan fenomena yang paling unik dan menarik dalam penggunaannya. Ponsel yang mudah dibawa kemana saja kini tidak mengenal usia dan kalangan, bahkan sekarang ini ponsel telah menjadi “teknologi yang merakyat”.

Penggunaan ponsel menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan saat ini yang memerlukan mobilitas tinggi. Fasilitas-fasilitas yang terdapat didalamnya pun tidak hanya terbatas pada fungsi telepon dan SMS (short messages service) saja. Ponsel dapat digunakan sebagai sarana bisnis, penyimpan berbagai macam data, sarana musik/hiburan, bahkan sebagai alat dokumentasi. Hal ini menjadikan ponsel sebagai salah satu perkembangan komunikasi yang paling actual di Indonesia selama lebih dari lima tahun terakhir (Nurudin, 2005). Terlihat juga pada kompetitif kualitas dari berbagai merk ponsel seperti Nokia, Sony Ericson, Samsung, Siemens, Motorola, Alcatel, dan lain-lain. Masing-masing tidak berhenti bersaing mencari pangsa pasar melalui produk terbaru hanya dalam kurun waktu yang relatif singkat.

Simanjuntak (2004) dalam tulisannya mengenai aspek sosial telepon selular menyatakan paling tidak ada lima implikasi dari penggunaan ponsel. Pertama, terhadap setiap individu yang menggunakan ponsel tersebut. Kedua, terhadap interaksi-interaksi antar individu. Ketiga, terhadap pertemuan tatap muka. Keempat, terhadap suatu kelompok-kelompok atau organisasi. Selajutnya yang kelima adalah terhadap sistem hubungan di organisasi dan kelembagaan masyarakat.

Penggunaan ponsel sekarang bukan hanya sebagai alat komunikasi semata, melainkan juga mendorong terbentuknya interaksi yang sama sekali berbeda dengan interaksi tatap muka. Disini interaksi terbentuk kemudian dipercepat prosesnya melalui suara dan teks atau tulisannya (Brotosiswoyo, 2002). Hal ini berbeda dengan dahulu yang biasa disebut “telepati” (komunikasi antara dua manusia yang tidak tergantung pada tempatnya) dan sudah menjadi perwujudan riil yang biasa, yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Ponsel disamping itu juga dapat merubah makna dari “kesendirian”. Kesendirian itu dapat menjadi suatu suasana yang lebih ramai dan hidup. Dengan satu ponsel yang canggih saja, kita dapat mendengarkan  musik, bermain games, internet, foto-foto, menonton video, dan lain-lain meskipun kita berada dalam satu ruangan sendirian tanpa ada apapun.

Dari sekian kelebihan yang telah ditawarkan dari suatu ponsel, tetapi terdapat juga banyak dampak negatif bermunculan. Budyatna (2005) mengemukakan bahwa untuk pendekatan komunikasi yang paling ideal adalah bersifat transaksional, dimana proses komunikasi dilihat sebagai suatu proses yang sangat dinamis dan timbal balik. Disini Budyatna melihat bahwa dengan munculnya penggunaan ponsel mempengaruhi proses transaksional tersebut. Seringkali komunikasi yang dinamis dan timbal balik dirasakan menurun kualitas dan kuantitasnya pada interaksi tatap muka.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan tersebut, maka dapat diketahui bahwa penggunaan media teknologi komunikasi ponsel saat ini dirasakan penting. Penggunaan ponsel sebagai alat komunikasi seharusnya dapat mempererat interaksi sosial remaja dengan lingkungannya. Perumusan masalah yang akan menjadi fokus kajian dalam penelitian ini adalah:

  1. Bagaimana penggunaan ponsel pada remaja saat ini?
  2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penggunaan ponsel pada remaja?
  3. Bagaimana pengaruh penggunaan ponsel pada remaja terhadap interaksi sosialnya?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang dikemukakan tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

  1. Mengidentifikasi penggunaan ponsel pada remaja saat ini
  2. Menganalisis faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penggunaan ponsel pada remaja
  3. Menganalisis pengaruh penggunaan ponsel pada remaja terhadap interaksi sosialnya

1.4. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini berguna bagi peneliti dalam rangka men gembangkan studi dan memnperluas wawasannya mengenai kehidupan interaksi remaja perkotaan pada saat ini, terkait dengan perkembangan teknologi komunikasi ponsel. Penelitian ini juga dapat menjadi informasi tambahan atau acuan literature untuk penelitian-penelitian selanjutnya, khususnya bagi para akademisi atau bagi mereka yang tertarik untuk memahami pengaruh penggunaan media teknologi komunikasi ponsel terhadap interaksi sosial remaja.

BAB II

PENDEKATAN TEORITIS

2.1. Tinjauan Pustaka

2.1.1. Media Teknologi Komunikasi Ponsel

Teknologi Komunikasi

Menurut Kamus Sosial Edisi baru, istilah Teknologi yaitu: (1) Penerapan ilmu pengetahuan; (2) pola praktek menggunakan semua sumber daya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu; serta (3) semua ciri untuk mencapai tujuan organisasi. Sedangkan menurut Johannesen (1996) teknologi diartikan sebagai aktivitas budaya yang khas ketika manusia membentuk dan mengubah realitas alami demi tujuan-tujuan praktis. Setiap langkah kemajuan teknologi menyebabkan serangkaian perubahan yang berinteraksi sengan perubahan lainnya yang timbul dari sistem teknologi secara keseluruhan.

Teknologi komunikais pada hakikatnya adalah penyaluran informasi dari satu tempat ke tempat lain melalui perangkat telekomunikasi (kawat, radio atau perangkat elektromagnetik lainnya)[1]. Informasi tersebut dapat berbentuk suara (telepon), tulisan dan gambar (telegraf), data (komputer), dan sebagainya. Teknologi komunikasi merupakan teknologi yang cepat berkembang, seiring dengan berkembangnya industri elektronika dan computer. Trend teknologi ini semakin kearah teknologi wireless (tanpa kabel).

Bentuk-bentuk teknologi kominukasi menurut Kadir dan Triwahyuni (2003) mencakup telepon, radio, dan televisi. Bentuk-bentuk teknologi komunikasi ditampilkan dalam tingkat antarpesona, kelompok, organisasional, dan public. Pada tingkat kelompok yaitu konferensi telepon, telekomunikasi computer, dan dan surat elektronik. Pada tingkat organisasional yaitu intercom, konferensi telepon, surat elektronik, manajemen dengan bantuan computer, sistem informasi, dan faksimili. Sedangkan pada tingkat public yaitu televise, radio, film, videotape, videodisk, TV kabel, TV satelit langsung, video dengan teks, teleteks, dan sitem informasi digital.

Pada saat ini telepon merupakan alat komunikasi yang banyak ditemukan dalam dunia bisnis. Bahkan setiap hari sekitar lebih dari 500 juta panggilan telepon dilakukan diseluruh dunia[2]. Menurut Gouzali Saydam (2005), istilah telepon pada awalnya merupakan suara dari jarak jauh. Selain itu keberadaan telepon itu sendiri dibagi menjadi dua, yaitu telepon biasa (fix telephone) dan telepon bergerak.

Perkembangan Ponsel

Ponsel atau biasa juga disebut Handphone (telepon genggam atau telepon selular) merupakan telepon yang termasuk dalam sambungan telepon bergerak, dimana yang menghubungkan antar sesama ponsel tersebut adalah gelombang-gelombang radio yang dilewatkan dari pesawat ke BTS (Base Tranceiver Station) dan MSC (Mobile Switching center) yang bertebaran di sepanjang jalur perhubungan kemudian diteruskan ke pesawat yang dipanggil (Gouzali Saydam, 2005).

Ponsel merupakan bentuk yang dianggap paling fenomenal dan juga unik. Dalam pemakaian ponsel, besarnya tagihan bergantung pada lama waktu percakapan serta jarak atau zona jangkau (SLJJ) percakapan yang telah dilakukan dalam percakapan. Terdapat tiga hal penting mengenai biaya yang dikeluarkan bagi pelanggan ponsel, yaitu biaya airtime, biaya bulanan dan biaya pulsa atau pemakaian[3].

Semakin maraknya penggunaan ponsel saat ini, muncul ide untuk menciptakan kebergantungan pemilik ponsel tersebut pada kartu telepon prabayar (voucher). Perkembangan produk kartu prabayar dalam waktu yang singkat dapat menyaingi penggunaan sistem abonemen (pascabayar). Salah satu yang paling menarik pada prabayar adalah layanan transfer pulsa. Layanan ini menyediakan solusi bagi para pengguna prabayar yang membutuhkan pulsa dalam waktu cepat atau berada dalam keadaan darurat serta kesulitan mencari pulsa isi ulang.

Sekarang ini terdapat beberapa orang yang menggunakan dua ponsel, dimana satu pada umumnya merupakan ponsel CDMA. Kartu-kartu CDMA ini antara lain StarOne, Esia, Felxi, dan Fren. Para pemakai ponsel yang menggunakan kartu prabayar biasanya digolongkan pada konsumen ‘konsumen kelas dua’, sedangkan ‘konsumen kelas satu’ di mata operator penyelenggara ponsel adalah mereka yang menjadi pelanggan tetap jaringan ponsel.

Fasilitas pada ponsel

Disamping berfungsi sebagai alat komunikasi yang personal, ponsel juga berpotensi sebagai sarana bisnis yang efektif. Ponsel sangat bervariasi tergantung pada modelnya, yang seiring dengan perkembangan teknologi mempunyai fungsi-fungsi antara lain:

  1. Penyimpanan informasi
  2. Pembuat daftar pekerjaan atau perencanaan kerja
  3. Reminder (pengingat waktu) atau appointment
  4. Alat perhitungan (kalkulator)
  5. Pengiriman atau penerimaan e-mail
  6. Permainan (games)
  7. Integrasi ke peralatan lain seperti PDA, MP3
  8. Chatting dan Browsing internet
  9. Video

Mengenai fitur-fitur lain dalam ponsel terdapat beberapa macam, antara lain: profile, voice mail, called ID, memory, numeric paging, dan text messaging (SMS)/multimedia messaging (MMS), tones, locking/unlocking, call waiting, call forwarding, three-way calling, calling history, one-touch emnergency dialing, dan lain-lain. Diantara sekian banyak fitur tersebut, mungkin yang paling menarik untuk dibahas adalah SMS, MMS dan kamera.

SMS (Short message service) adalah layanan langsung dalam dua arah yang mampu mengirimkan pesan singkat 160 karakter yang bias disimpan dan direkam oleh pengelola ponsel. Selain itu SMS juga dapat digunakan dalam mode cell broadcast guna mengirim berita-berita terbaru dan pemberitahuan penting-penting lain yang bersifat masal. Sedangkan MMS (multimedia message service) disebut juga dengan SMS multimedia, yang bmemiliki daya angkut data yang besar. MMS memberikan layanan pengiriman berbasis teks menuju pesan multimedia (gambar, suara, video) dan dapat juga memberikan layanan berupa gambar diam berupa kartu, peta, kartu nama, layer saver (untuk PC). Fitur lainnya yang saat ini sedang gencarnya ditonjolkan oleh ponsel yaitu kamera, mulai dari jenis kamera opsional atau terpisah hingga kamera yang builtin yang sudah menyatu dengan ponselnya.

Mengenai kecanggihan teknologi, ponsel juga memiliki beberapa keunggulan seperti adanya teknologi Infrared dan Bluetooth. Bluetooth merupakan teknologi nirkabel yang dapat menyambungkan beberapa perangkat melalui gelombang radio berfrekuensi rendah (daya jangkau maksimal 50 meter) tanpa dihubungkan dengan kabel. Sedangkan pada infrared kedua perangkat harus dibuat berhadapan.

Mengenai media hiburan, MP3 pada ponsel sudah menggunakan teknologi yang lebih canggih lagi saat ini. Telah dibuat suatu pengembangan yang lebih lanjut, dinamakan MP3 Surround. MP3 Surround atau biasa disebut suara keliling ini pada dasarnya akan memberikan ilusi suara pada pendengarnya seolah-olah berada dalam sebuah lingkungan tertentu. Selain itu, teknologi pada ponsel yang paling terbaru saat ini yaitu menyaksikan televisi melalui layer ponsel. Ponsel seperti ini termasuk dalam ponsel generasi ketiga, atau disebut dengan 3G.

Dampak penggunaan ponsel

Penggunaan ponsel dapat membawa dampak-dampak tertentu. Dampak-dampak tertentu dibagi pada aspek psikologis, sosial, keuangan, dan kesehatan atau keselamatan jiwa seseorang. Tetapi yang akan dijelaskan disini adalah pada aspek psikologis dan sosial[4].

  1. Aspek Psikologis

Banyaknya pesan melalui SMS yang berisi ajakan-ajakan bersifat rasisme dapat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. Contohnya yang marak ditemukan adalah pesan yang berisi pemboikotan barang produksi Amerika. Selain itu juga terdapat peredaran pesan teks, gambar, maupun video yang bersifat pornografi. Mudahnya askes keluar-masuk pesan tersebut melalui ponsel membawa dampak negatif, terutama untuk generasi muda sekarang ini.

  1. Aspek Sosial

Salah satu hal yang sering terjadi adalah tindakan seseorang yang membiarkan ponsel miliknya tetap dalam keadaan hidup atau aktif sehingga mengeluarkan bunyi yang nyaring. Hal ini jelas mengganggu konsentrasi serta mengejutkan orang-orang disekitarnya. Seperti ketika sedang rapat bisnis, dirumah sakit, sedang ditempat-tempat ibadah, dan lain-lain. Selain penggunaan ponsel sebagai media komunikasi tidak langsung dapat menurunkan kualitas dan kuantitas dari komunikasi secara langsung (tatap muka). Sering terjadi kesalahpahaman dalam pemaknaan pesan melalui komunikasi secara tidak langsung.

2.1.2. Interaksi Sosial

Definisi dan Bentuk Interaksi Sosial

Interaksi sosial adalah bentuk-bentuk yang tampak apabila orang perorangan ataupun kelompok-kelompok manusia mengadakan hubungan satu sama lain terutama dengan mengetengahkan kelompok serta lapisan sosial sebagai unsur pokok struktur social. Interaksi sosial dapat dipandang sebagai dasar proses-proses social yang ada, menunjuk pada hubungan-hubungan social yang dinamis.

Interaksi sosial adalah suatu hubungan anatr dua atau lebih individu manusia, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi individu yang lain. Kelangsungan interaksi social ini, sekalipun dalam bentuknya yang sederhana, ternyata merupakan proses yang kompleks. Pengertian lain bahwa suatu interaksi social diartikan sebagai suatu sistem sosial dua orang atau lebih yang dilengkapi dengan beberapa aturan dan harapan, serta beberapa ganjaran dan hukuman yang berlaku.

Gea, Wulandari, dan Bahari (2003) melihat suatu kebutuhan berinteraksi manusia dimana setiap orang membutuhkan hubungan social dengan orang-orang lainnya. Kebutuhan ini terpenuhi melalui pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia yang satu dengan lainnya, yang tanpa berkomunikasi akan terisolasi.

Mengenai interaksi yang terjalin tersebut, yang dinggap paling ideal adalah secara tatap muka (langsung). Interaksi tatap muka lebih memungkinkan suatu proses yang bersifat dinamis dan timbal balik secara langsung. Pertukaran informasi secara tatap muka dapat mempercepat proses saling mempengaruhi antara pihak-pihak yang berinteraksi didalamnya. Sedangkan menurut Soekanto (2002), suatu interaksi sosial tidak akan mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat, yaitu :

  1. Adanya kontak social (social-contact)
  2. Adanya komunikasi

Kontak dan Komunikasi

Kata Kontak berasal dari bahasa Latin con atau cum (yang artinya bersama-sama) dan tango (yang artinya menyentuh), jadi artinya secara harfiah adalah bersama-sama menyentuh. Tetapi secara gejala social, kontak tidak perlu berarti suatu hubungan badaniah. Seperti pada perkembangan teknologi dewasa ini orang-orang dapat berhubungan satu dengan lainnya melalui telepon, telegrap, radio, surat, dan seterusnya[5].

Kontak dapat bersifat primer maupun sekunder. Kontak primer terjadi apabila yang mengadakan hubungan langsung bertemu dan berhadapan muka atau face-to-face (berjabat tangan, saling senyum, dll). Sebaliknya kontak sekunder memerlukan suatu perantara. Hubunga-hubungan sekunder tersebut dapat dolakukan melaui perantara seperti telepon, telegrap, radio, surat, dll.

Mengenai komunikasi dapat dilihat secara bahasa, yakni berasal dari kata Latin kommunicatio yang artinya hal memberitahukan, hal memberi bagian dalam, atau pertukaran. Secara lebih sempit dapat diartikan sebagai pesan yang dikirimkan seseorang kepada satu atau lebih penerima dengan maksud sadar untuk mempengaruhi tingkah laku si penerima. Menurut Soekanto (2002), menyatakan bahwa komunikasi adalah ketika seseorang memberikan tafsira pada perilaku orang lain (yang berwujud pembicaraan, gerak-gerik badaniah atau sikap), perasaan-perasaan apa yang ingiin disampikan oleh orang tersebut. Dengan begitu orang yang bersangkutan kemudian akan memberikan reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang lain tersebut.

Gea, Wulandari, dan Babari, (2003) menggambarkan suatu komunikasi yang efektif apabila si penerima pesan menginterpretasikan pesan yang diterimanya sebagaimana dimaksudkan oleh pengirim pesan. Salah satu cara terbaik untuk memastikan bahwa pesan yand diberikan benar-benar diterima secara tepat sebagaimana yang dimaksud adalah dengan mendapatkan umpan balim pesan tersebut. Umpan balik adalah proses ynag memungkinkan seseorang pengirim mengetahui bagaimana pesan yang dikirimkannya telah ditangkap oleh si penerima atau tidak. Selain itu cara seseorang mendengarkan dan menanggapi lawan bicara juga sangatlah penting dalam berkomunikasi. Memberikan tanggapan penuh pemahaman dalam mendengarkan dapat meenghindari kecenderungan kesalahpahaman komunikasi antara pihak terkait.

Dari berbagai jenis komunikasi yang ada, komunikasi antar manusia yang langsung (bertatap muka) adalah yang efektif serta paling lengkap mengandung aspek psikologis. Aspek tersebut antara lain :

  1. Tatap muka itu sendiri yang membedakannya dengan komunikasi jarak jauh atau komunikasi menggunakan alat

Dalam komunikasi tatap muka ada peran yang harus dijalankan oleh masing-masing pihak (pemberi informasi-penerima informasi, ibu-anak, ayah-anak, suami-isteri, guru-murid, dan lain-lain) dan ditunjukkan dengan jelas.

  1. Adanya hubungan dua arah secara langsung

Dengan adanya pertukaran pesan dalam komunikasi tatap muka, terjadi saling pengertian akan makna atau arti pesan. Jadi dalam komunikasi ini yang penting bukanlah pesannya semata, melainkan arti (meaning) dari pesan tersebut.

  1. Adanya niat, kehendak, atau intensi dari kedua belah pihak

Hal tersebut akan mempercepat proses adanya saling pengertian secara kognitif dalam komunikasi antar manusia.

Komunikasi yang dilakukkan secara tidak langsung (memerlukan perantara, seperti telepon, telegrap, radio, surat, dll.) mempunyai dampak yang berbeda dengan komunikasi secara langsung (tatap muka). Menurut Gea, Wulandari, dan Babari, (2003), komunikasi tidak langsung dapat menyebabkan timbulnya kegagalan saling berkomunikasi (hambatan-hambatan), dalam arti si penerima menangkap makna pesan berbeda dari yang dimaksud oleh si pengirim. Hambatan-hambatan tersebut antara lain:

1.   Gagalnya menagkap maksud konotatif dibalik maksud seseorang

2.   Hanya mengartikan kata atau kalimat secara murni dan tidak mengembangkan pemahamannya

3.   Kesalahpahaman atau distorsi dalam komunikasi

4.   Adanya gangguan fisik, misalnya gangguan suara pada telepon, hasil cetakan yang tidak baik, tampilan layer yang kurang jelas (kabur), desain format yang tidak baik, dll.

Dalam komunikasi antar manusia dapat berbeda-beda. Hal ini dapat dilihat menurut keluasannya atau breadth (banyaknya atau jenis-jenis topic yang dibicarakan) dan kedalamannya atau depth (derajat “kepersonalan” atau inti dalam mebicarakan topic itu). Sedangkan menurut penelitian Mardiyanti (1996), secara garis besar terdapat beberapa hal yang dapat dilihat dalam kaitannya dengan kontak social dan komunikasi sebagai pengukuran interaksi secara langsung (tatap muka), antara lain adalah minat, frekuensi, ruang lingkup rekan-rekan, jenis dan banyaknya topic pembicaraan, tempat melakukan kegiatan, kedalaman komunikasi serta pada interaksi itu sendiri (asosiatif dan disosiatif).

2.1.3. Remaja

Definisi dan Rentangan Usia Remaja

Istilah Adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescere yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”. Istilah ini mempunyai arti yang lebih luas, mencakup kematangan mental, emosional, social, dan fisik (Hurlock, 1980). Apabila digolongkan sebagai anak-anak maka golongan remaja telah melewati masa tersebut, tetapi bila digolongkan dengan orang dewasa juga masih belum sesuai. Oleh karena itu banyak istilah golongan remaja ini dirasakan tumpang tindih pengertiannya. Istilah lain yang sering digunakan adalah menurut Rumini dan Sundari H.S (2004), dimana masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek atau fungsi memasuki masa dewasa.

Hurlock (1980) juga menambahkan definisi masa remaja dengan menggunakan ciri-ciri tertentu yang dapat membedakannya dengan periode sebelum dan sesudahnya, yaitu : Masa remaja sebagai periode yang penting, masa remaja sebagi periode peralihan, masa remaja sebagai periode perubahan, masa remaja sebagai usia yang bermasalah, masa remaja sebagai masa mencari identitas, masa remaja sebagai usia yang menimbulakan ketakutan, masa remaja sebagai masa yang tidak realistic, dan yang terakhir yaitu masa remaja sebagai ambang masa dewasa.

Menurut Mappiare dalam bukunya Psikologi Remaja (1982), dapat disimpulkan bahwa secara teoritis dan empiris dari segi psikologis, rentangan usia remaja berada dalam usia 12 tahun samapai 21 tahun bagi wanita, dan 13 sampai 22 tahun bagi pria. Jika dibagi atas remaja awal dan remaja akhir, maka remaja awal berada dalam usia 12/13 tahun sampai 17/18 tahun, dan remaja akhir dalam rentangan usia 17/18 tahun sampai 21/22 tahun.

Lingkungan Sosial Remaja

Lingkungan sosial yang paling dekat serta berpengaruh dalam kehidupan remaja adalah lingkungan social awal, yakni keluarga, lalu kemudian dilanjutkan dengan lingkungan sebayanya, yang terdiri dari kelompok pertemanan atau kelompok permainan (sahabat).

Keluarga adalah lingkungan paling utama dimana kita mengalami kedekatan dan kebersamaan yang sangat intensif, serta lingkungan tempat kita menjalani proses sosialisasi berbagai nilai dasar kemanusiaan. Menurut Soekanto (2002), orang tua dan saudara melakukan sosialisasi yang bias diterapkan melalui kasih saying. Atas dasar kasih sayang tersebut, seorang individu dididik untuk mengenal nilai-nilai tertentu. Konsep hubungan keluarga mempengaruhi konsep diri remaja dimana seorang remaja yang mempunyai hubungan erat dengan seorang anggota keluarga akan mengidentifikasikan diri dengan orang lain dan ingin mengembangkan pola kepribadian yang sama[6].

Menurut Mappiare (1982), kelompok teman sebaya merupakan lingkunga social pertama dimana remaja belajar untuk hidup bersama dengan orang lain yang bukan anggota keluarganya. Didalamnya timbul persahabatan yang merupakan ciri khas pertama dan sifat interaksinya dalam pergaulan. Manfaat penting dari adanya persahabatan dalam masa remaja ini adalah mereka dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama dan mengisi waktu luang. Lebih penting lagi, bahwa dalam persahabatan itu remaja dapat merasa adanya kepuasan dalam interaksi sosialnya (Mappiare, 1982).

Perilaku Remaja

Suatu perilaku (behavior) yang merupakan cara bertindak dapat dipandang sebagai reaksi yang bersifat sederhana maupun yang bersifat kompleks[7]. Sebagai makhluk social, perilaku remaja banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari dalam diri remaja itu sendiri maupun dari lingkungannya. Menurut Kurt Lewis dalam Azwar (2003), perilaku adalah fungsi karakteristik individu dan lingkungan. Karakteristik individu meliputi berbagai variabel seperti motif, nilai-nilai, sifat kepribadian, dan sikap yang saling berinteraksi satu sama lain dan kemudian berinteraksi pula dengan factor-faktor lingkungan dalam menentukan perilaku. Sedangkan menurut Rakhmat (2001) terdapat 2 faktor yang mempengaruhi perilaku manusia yaitu:

1)      faktor-faktor personal, yaitu faktor biologis dan faktor sosio-psikologis.

2)      faktor-faktor situasional, yaitu faktor ekologis, faktor rancangan dan artsitektural, faktor temporal, suasana perilaku, teknologi, faktor-faktor sosial dan lingkungan psiko-sosial.

Kompleksitas perilaku remaja telah menjadi bahasan yang penting, terutama memahami perilaku remaja dalam lingkungan sosialnya, memahami motivasi perbuatan dan mencoba meramalkan respon remaja agar dapat memperlakukan sesama manusia dengan sebaik-baiknya (Hurlock, 1980). Perilaku terhadap suatu objek dapat dilihat dari beberapa dimensi (Calhoun, 1995) yaitu:

  1. Frekuensi

Menunjukkan jumlah atau kuantitas dari perilaku seseorang

  1. Kepada siapa berperilaku

Perilaku yang dilakukan tidak hanya ditunjukkan untuk diri sendiri tetapi juga ditujukan bagi orang lain.

  1. Untuk apa

perilaku yang dilakukan seseorang itu mempunyai manfaat atau tujuan baik untuk dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

  1. Bagaimana

Menunjukkan upaya atau cara yang dilakukan seseorang dalam berperilaku untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Perilaku remaja juga berkaitan dengan minat mereka terhadap keberadaan media massa yang termasuk pada minat rekreasi. Menurut Hurlock (1980) minat rekreasi juga sangat dipengaruhi oleh derajat kepopulerannya. Beberapa bentuk rekreasi yang digemari remaja saat ini antara lain mendengarkan radio dan kaset, menonton televise, serta membaca. Selain itu perilaku remaja yang menonjol terletak pada nilai kemandiriannya. Mereka cenderung melepaskan diri dengan lingkungan sosial, terutama dengan lingkungan keluarganya sendiri.

Remaja laki-laki dengan perempuan juga terdapatperbedaan-perbedaan dalam perilakunya. Remaja perempuan cenderung memiliki tingkat keintiman yang dalam dengan orang-orang sekitarnya dibanding dengan remaja laki-laki. Hal ini dikarenakan remaja laki-laki ingin menunjukkan kemandirian yang lebih dan adanya jarak dengan sekitarnya[8]. Selain itu menurut Apriyanti (2005) secara spesifik mengemukakan remaja putri lebih banyak membutuhkan sejumlah barang-barang baru perlu dibeli dan juga barang-barang baru yang disesuaikan dengan kebutuhannya.

2.2. Kerangka Pemikiran

Ponsel merupakan salah satu perkembangan teknologi komunikasi paling aktual di Indonesia selama lebih dari lima tahun terakhir. Ponsel disamping memiliki fungsi utama sebagai alat komunikasi, juga dapat digunakan sebagai sarana bisnis, penyimpanan berbagai macam data, sarana musik atau hiburan, bahkan sebagai alat dokumentasi. Dalam hal ini pengguna ponsel tersebar pada kelompok remaja prkotaan, terutama pada pulau Jawa. Respon kelompok remaja terhadap keberadaan ponsel cukup tinggi, walaupun belum tentu penggunaan ponsel tersebut dimanfaatkan seluruhnya secara optimal dalam kehidupan sehari-sehari mereka.

Tingkat penggunaan ponsel pada remaja diduga dapat dipengaruhi oleh beberapa karakteristik, antara lain karakteristik yang berkaitan dengan diri individu (internal) maupun dengan lingkungannya (eksternal). Karakteristik internal mencakup jen is kelamin, status ekonomi keluarga, tujuan penggunaan ponsel serta aktivitas-aktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh remaja tersebut. Karakteristik eksternal mencakup pengaruh dari teman-teman dekat remaja serta terpaan media (media exposure) massa.

Jenis kelamin diduga dapat mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel, karena remaja putri cenderung memiliki gaya hidup dan pola konsumtif yang tinggi dalam melihat setiap perkembangan ponsel yang ada dibandingkan remaja putra. Selain itu, remaja putri juga cenderung sering dan intens berkomunikasi melalui ponsel dengan sesamanya, dimana dalam komunikasi yang berlangsung tersebut biasanya banyak hal-hal yang dibicarakan. Status ekonomi keluarga diduga dapat mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel, karena biaya-biaya yang harus disediakan oleh para pengguna ponsel. Semakin tinggi pendapatan orang tua tiap bulannya yang menggambarkan status ekonomi dalam keluarga diduga dapat meningkatkan penggunaan ponsel pada remaja, yang pada akhirnya meningkatkan biaya pengeluaran setiap bulannya.

Tujuan dalam menggunakan pnsel diduga dapat mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel, karena dengan tujuan yang berbeda dapat menyebabkan perbedaan pula pemaja menggunakan ponselnya.aktivitas-aktivitas yang diikuti remaja diduga dapat mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel, karena dengan semakin banyak aktivitas atau kegiatan yang dilakukan dapat menunjukkan bahwa remaja tersebut memiliki mobilitas yang tinggi (di dalam maupun luar sekolah). Diduga hal tersebut dapat meningkatkan penggunaan ponsel sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Pengaruh teman dekat diduga dapat mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel, karena pada masa remaja inilah kelompok persahabatan atau teman sebaya merupakan lingkungan sosial yang memegang  peranan penting dalam sosialisasi remaja. Hal tersebut menyebabkan remaja dalam menggunakan ponselnya akan melihat dan bergantung pada lingkungan teman sebayanya. Terpaan media massa diduga dapat mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel, karena melalui media massa (cetak maupun elektronik) tersebut remaja memperoleh berbagai informasi mengenai perkembangan ponsel. Semakin sering frekuensi dan beragam jenis media massa tentang ponsel yang diterpa oleh remaja diduga mempunyai pengaruh penting, disamping pengaruh dari teman dekatnya.

Tingkat penggunaan ponsel pada remaja dapat dilihat melalui empat hal, yaitu frekuensi penggunaan, pemanfaatan fasilitas, tingkat biaya pengeluaran, dan pihak yang diajak berkomunikasi. Selanjutnya tingkat penggunaan teknologi komunikasi ponsel tersebut sebagai pengaruh dari luar masyarakat diduga dapat mempengaruhi interaksi sosial pada remaja tersebut. Penggunaan ponsel sebagai alat komunikasi seharusnya dapat meningkatkan interaksi sosial remaja dengan lingkungannya. Tetapi diduga justru dapat menurunkan interaksi tatap muka antara remaja dengan lingkungan sosialnya, yang terdiri dari lingkungan keluarga dan lingkungan persahabatan (teman sebaya).

Interaksi sosial remaja secara tatap muka itu sendiri dilihat dari lamanya waktu serta intensitas (tingkat keluasan atau banyaknya topik pembicaran) interaksi tatap muka. Berdasarkan literatur-literatur yang telah dibahas, maka dapat dirumuskan suatu kerangka pemikiran sebagai berikut:

Interaksi Sosial Remaja (Tatap muka):

  • Waktu interaksi
  • Intensitas interaksi

Karakteristik Internal:

  • Jenis kelamin
  • Tingkat status ekonomi keluarga
  • Tujuan penggunaan ponsel
  • Tingkat aktivitas

Keterangan:                     Mempengaruhi

2.3. Hipotesis Uji

Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dirumuskan, maka dapat disusun hipotesis penelitian sebagai berikut:

  1. Diduga remaja memiliki tingkat penggunaan ponsel yang cenderung tinggi
  2. Diduga karakteristik internal mempengaruhi penggunaan ponsel pada remaja
  3. Diduga karakteristik eksternal mempengaruhi penggunaan ponsel pada remaja
  4. Diduga penggunaan ponsel pada remaja mempengaruhi interaksi social remaja.

2.4. Definisi Operasional

Variabel-variabel yang dikemukakan dalam penelitian ini diukur dengan merumuskan batasan dari masing-masing variabel terlebih dahulu. Adapun variabel-variabel tersebut adalah:

  1. Karakteristik Internal adalah jarakteristik yang mencirikan responden dan berkaitan dengan ciri individu. Terdiri dari jenis kelamin, status ekonomi keluarga, tujuan responden dalam menggunakan ponselnya, serta tingkat aktivitas.
  2. Tingkat status ekonomi keluarga adalah status dari keluarga responden dalam masyarakat yang dilihat melalui penghasilan orang tua (ayah dan ibu) responden setiap bulannya. Dibagi menjadi kategori (skala ordinal), seperti:
    1. Status ekonomi keluarga tinggi apabila penghasilan orang tua >Rp. 5.000.000,- perbulannya
    2. Status ekonomi menengah apabila penghasilan orang tua Rp. 2.000.000 hingga Rp. 5.000.000 perbulannya.
    3. Status ekonomi rendah apabila penghasilan orang tua < Rp. 2.000.000
    4. Karakteristik Eksternal adalah karakteristik yang mencirikan responden dan berkaitan dengan lingkungannya, terdiri dari pengaruh teman dekat serta terpaan media massa.
    5. Tingkat penggunaan ponsel adalah suatu tingkat yang menunjukkan perilaku penggunaan ponsel oleh responden dan terdiri dari; (1) Frekuensi penggunaan, (2) pemanfaatan fasilitas, (3) tingkat biaya pengeluaran, (4) pihak yang diajak berkomunikasi. Pengukuran tingkat penggunaan ponsel dengan melihat akumulasi skor keempat variabel tersebut. Dibagi menjadi kategori (skala ordinal):
      1. Penggunaan ponsel tinggi, total skor 29-42
      2. Penggunaan ponsel sedang, total skor 15-28
      3. Penggunaan ponsel rendah, total skor ≤ 14
      4. Tingkat terpaan media massa adalah frekuensi responden dalam menerima informasi tentang ponsel melalui berbagai media, baik media cetak maupun elektronik (6 jenis media: televisi, radio, koran, majalah, brosur/selebaran, dan internet). Pengukuran tingkat terpaan media informasi ini menggunakan skor yaitu (3) untuk jawaban sering; (2) kadang-kadang, (1) tidak pernah. Dibagi menjadi kategori (skala ordinal):
        1. Terpaan media massa tinggi, total skor 15-18
        2. Terpaan media massa sedang, total skor 10-14
        3. Terpaan media massa rendah, total skor 6-9

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di SMUN 1 Bogor. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) berdasarkan pertimbangan bahwa SMUN 1 merupakan salah satu SMUN yang terletak di pusat kota dengan sampel yang tergolong dalam keluarga berkecukupan sehingga memiliki asumsi bahwa banyak sampel yang sudah memiliki ponsel dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari mereka.

3.2. Penetapan Populasi dan Sampel Penelitian

Unit analisis penelitian adalah individu sedangkan populasi penelitian adalah remaja SMUN 1 Bogor. Hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa SMU merupakan tempat sosialisasi utama para remaja dengan lingkungan sosial mereka. Sampel penelitian ini adalah remaja (laki-laki dan perempuan) SMUN 1 Bogor yang menggunakan ponsel. Pengambilan sampel penelitian ditentukan dengan sengaja (purposive) secara accidental sampling. Populasi dibagi dalam kelas-kelas SMUN 1 Bogor (kelas X, XI, XII) dan masing-masing sejumlah 14 orang (7 laki-laki dan 7 perempuan). Jumlah sampel secara keseluruhan yang diambil sebanyak 42 orang (21 laki-laki dan 21 perempuan).

3.3. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis deskriptif korelasional. Penelitian deskriptif korelasional dapat memastikan berapa besar pengaruh yang disebabkan oleh satu variabel dalam hubungannya denagn variasi yang disebabkan oleh variabel lain (Rakhmat, 2005). Pendekatan penelitian adalah kuantitatif, data yang digunakan dalam penelitian adalah data kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif. Data kuantitatif dialkukan dengan metode survai, yaitu melalui kuesioner sebagai instrumen utama penelitian. Sedangkan data kualitatif sebagai pendukung penelitian melalui wawancara untuk mendapatkan keterangan tambahan dari responden.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari responden melalui pengisian kuesioner dan hasil wawancara. Kuesioner dan wawancara berisi sejumlah pertanyaan dan pernyataan yang berkaitan dengan karakteristik responden (internal maupun eksternal), tingkat penggunaan ponsel dan interaksi sosial yang terjadi. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui dokumentasi Kantor SMUN 1 Bogor. Hal ini guna memenuhi kebutuhan untuk informasi mengenai gambaran umum lokasi penelitian.

3.5. Teknik Analisis Data

Data primer yang telah terkumpul dibuat dalam bentuk tabel kemudian dilakukan analisis secara statistik. Hasil dari analisis tersebut diinterpretasikan untuk memperoleh kesimpulan atau fakta yang terjadi. Pengolahan dat tersebut dilakukan dengan menggunakan komputer melalui program SPSS for windows versi 11, 5. Hal ini digunakan guna ketepatan, kecepatan proses perhitungan dan kepercayaan hasil pengujian.

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, saiffudin. Sikap Manusi, Teori dan Pengukurannya. Edisi kedua. Yogyakarta: Pusat Pelajar, 2003.

Badwilan, Rayyan Ahmad. Rahasia Dibalik Handphone. Jakarta: Darul Falah, 2004.

Budyatna, M.’Pengembangan Sistem Informasi: Permasalahan dan Prospeknya’. Komunika. Vol 8 No 1, 2005.

Hassan, Fuad. Teknologi dan Dampak penggunaanya: Tantangan Dalam Laju Teknologi. Orasi Ilmiah dies Natalis Institut Pertanian Bogor sepuluh November ke-39. Surabaya, 11 November 1999.

Hurlock, elizabeth B. Psikologis perkembangan, Suatu Pendekatan sepanjang Rentang Kehidupan. Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga, 1980.

Kadir, Abdul & Terra CH Triwahyuni. Pengenalan Teknologi Informasi. Yogyakarta: Penerbit Andi Yogyakarta, 2003.

Morey, Doc. Phone Power: Meningkatkan Keefektifan Berkomunikasi di Telepon. Jakarta: PT Gramedia, 2004.

Nurudin. Sistem-sistem Komunikasi di Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005.

Saydam, Gouzali. Teknologi telekomunikasi, perkembangan dan Aplikasi. Bandung: Alfabeta, 2005.

Soerjono, Soekanto. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta; PT Raja Grafindo, 2002.

LAMPIRAN


[1] Gouzali Saydam, Teknologi telekomunikasi: perkembangan dan Aplikasi ( Bandung: Alfabeta, 2005).

[2]Doc Morey, Phone Power: Meningkatkan Keefektifan Berkomunikasi di Telepon. (Jakarta: PT Gramedia, 2004).

[3] Abdul Kadir & Triwahyuni Terra CH, Pengenalan Teknologi Informas (Yogyakarta: Penerbit Andi Yogyakarta, 2003).

[4] Rayyan Ahmad Badwilan, Rahasia Dibalik Handphone. (Jakarta: Darul Falah, 2004).

[5] Soekanto Soerjono,  Sosiologi Suatu Pengantar. (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2002).

[6] Elizabeth B Hurlock, Psikologis perkembang, Suatu Pendekatan sepanjang Rentang Kehidupan. Edisi Kelima. (Jakarta: Erlangga, 1980).

[7] Saiffudin Azwar, Sikap Manusi, Teori dan Pengukurannya. Edisi kedua. (Yogyakarta: Pusat Pelajar, 2003).

[8] Ibid.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: